Pamungkasnews.id, BALIKPAPAN – Anggota DPRD Kota Balikpapan Iwan Wahyudi kembali turun ke daerah pemilihannya dalam agenda Reses Masa Sidang I Tahun 2025/2026, Selasa (21/10/2025) sore.
Kegiatan serap aspirasi tersebut digelar di lingkungan RT 01 Kelurahan Gunung Samarinda, Kecamatan Balikpapan Utara, dan dihadiri oleh perwakilan PTMB, Lurah Gunung Samarinda, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta puluhan warga yang antusias menyampaikan beragam aspirasi dan keluhan.
Suasana reses berlangsung hangat namun serius. Warga satu per satu menyampaikan persoalan nyata yang selama ini dirasakan di lingkungan mereka, mulai dari krisis air bersih hingga persoalan kebersihan lingkungan yang dinilai tak kunjung membaik.
Dalam sambutannya, Iwan Wahyudi menegaskan bahwa reses adalah momen penting bagi anggota DPRD untuk mendengar langsung denyut kehidupan masyarakat di lapangan.
“Reses bukan sekadar seremonial. Ini adalah ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka, dan bagi kami untuk mendengar langsung apa yang benar-benar dibutuhkan warga,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa seluruh hasil serap aspirasi akan dihimpun dan dimasukkan ke dalam sistem Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Balikpapan agar dapat ditindaklanjuti secara terukur dan profesional oleh pemerintah.
“Setiap usulan tidak berhenti di forum ini. Semuanya akan kami bawa, kami kawal, dan kami perjuangkan agar masuk dalam RKPD,” tambahnya.
Salah satu keluhan paling krusial disampaikan oleh Sriati, warga RT 01, yang mengungkapkan bahwa air PDAM sudah tidak mengalir hampir tiga tahun terakhir.
Menurutnya, sekitar 10 hingga 15 kepala keluarga (KK) di wilayah tersebut terdampak langsung akibat air yang tak kunjung mengalir. Warga akhirnya harus membeli air tandon setiap tiga hari sekali, dengan biaya yang cukup memberatkan.
“Sudah hampir tiga tahun air PDAM mati total. Kami curiga sejak ada pemasangan pipa jaringan gas, aliran air jadi terganggu. Sampai sekarang belum ada kejelasan,” ujar Sriati disambut anggukan warga lainnya.
Warga menduga permasalahan itu terjadi akibat pengerjaan proyek jaringan gas beberapa tahun silam yang memengaruhi aliran pipa air PDAM.
Sebagai solusi jangka pendek, mereka berharap difasilitasi tandon besar dan pasokan air bersih agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi sembari menunggu perbaikan permanen.
“Daripada kami terus beli air setiap tiga hari, lebih baik pemerintah bantu tandon besar dan isi airnya bergilir untuk warga yang terdampak,” tambahnya.
Selain krisis air, persoalan kebersihan juga menjadi perhatian utama. Lulu, salah satu warga, mengeluhkan kondisi bak sampah di pinggir jalan RT 01 yang rusak dan tidak memadai. Setiap kali hujan deras, air meluap membawa sampah ke jalan raya hingga mengganggu pengguna jalan dan menimbulkan bau tidak sedap.
“Bak sampahnya sudah rusak. Kalau hujan, sampah keluar ke jalan raya, mengganggu warga dan pengendara. Kami minta diperbaiki atau diganti yang lebih bagus,” ujarnya.
Ia juga mengusulkan agar pemerintah membuat papan larangan besar dan permanen bertuliskan “Dilarang Buang Sampah Siang Hari”, karena kebiasaan warga membuang sampah di waktu yang tidak tepat menyebabkan bau menyengat di siang hari.
“Kalau ada aturan tertulis dan terlihat jelas, warga jadi lebih disiplin. Sekarang baunya luar biasa kalau siang,” tambah Lulu.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Iwan Wahyudi menyampaikan apresiasi atas partisipasi aktif masyarakat. Ia menegaskan bahwa seluruh masukan yang diterima akan segera dikoordinasikan dengan pihak terkait, baik PDAM, Dinas Lingkungan Hidup, maupun pemerintah kelurahan.
“Saya berkomitmen, semua usulan ini tidak akan berhenti di sini. Untuk masalah air, akan kami sampaikan ke PDAM agar segera dilakukan investigasi dan perbaikan. Sedangkan terkait bak sampah dan penataan lingkungan, akan kami masukkan dalam program kerja agar bisa direalisasikan,” ungkapnya.
Politisi yang dikenal aktif turun ke lapangan ini menilai, kehadiran warga yang berani berbicara menunjukkan tingkat kepedulian sosial yang tinggi.
“Kita butuh warga yang berani menyuarakan persoalan lingkungan. Ini bentuk kepedulian yang patut diapresiasi. DPRD tidak bisa bekerja sendiri tanpa partisipasi masyarakat,” tuturnya.
Kegiatan reses yang berlangsung hingga menjelang malam itu diakhiri dengan sesi dialog interaktif. Warga tampak puas karena aspirasi mereka didengar langsung oleh wakil rakyat yang hadir tanpa jarak.
Iwan Wahyudi menutup kegiatan dengan pesan bahwa fungsi DPRD bukan hanya membuat kebijakan, tetapi memastikan suara rakyat benar-benar sampai ke meja perencanaan pemerintah.
“Kami akan kawal aspirasi ini sampai ada hasil nyata. Karena tugas kami di DPRD adalah memastikan setiap keluhan masyarakat diterjemahkan menjadi kebijakan yang berpihak kepada rakyat,” pungkasnya.(*/Adv)
Penulis : Agus










