Oleh: Prakoso Yudho Lelono
_Ketua KPU Kota Balikpapan_
Balikpapan – Alkisah. Ketika Jepang kalah pada Perang Dunia II setelah bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang luluh lantak. Hancur. Kaisar Hirohito dikisahkan bertanya: “Masih adakah guru yang tersisa?” Lalu ia memerintahkan untuk mengumpulkan guru sebagai pondasi membangun kembali Jepang.
Cerita ini lebih merupakan kisah simbolik yang populer di buku motivasi dan pidato. Memang tidak tidak ada dokumen resmi atau rekaman sejarah tentang perintah Kaisar secara literal seperti kalimat yang sering dikutip.
Tetapi cerita ini mengandung pesan kuat. Bahwa ketika sebuah bangsa runtuh, yang pertama dicari bukan pasukan atau pejabat, melainkan para pendidik. Karena guru adalah pihak yang dapat membangunkan kembali mental, pengetahuan, dan peradaban sebuah bangsa.
Secara umum, guru seringkali digambarkan sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa.” Kalimat itu terdengar mulia. Merdu didengar, tapi terkadang justru menyimpan ironi: seolah jasa mereka sesuatu yang wajar dan biasa, sehingga seringkali tak dihitung.
Padahal, jika kita telisik lebih jauh, semua profesi “hebat” yang kita kagumi hari ini, sebutlah; dokter, insinyur, pemimpin, peneliti, pengusaha sukses semua pernah duduk sebagai murid di hadapan seorang guru.
Atau sebutlah Presiden, pemimpin tertinggi republik ini. Tidak ada Presiden tanpa guru. Tidak ada ilmuwan tanpa guru, bahkan tidak ada wartawan yang menuliskan artikel tentang guru tanpa pernah diajari membaca dan menulis oleh guru.
Lebih luas dari itu, peran guru bukan hanya sekadar menyampaikan pelajaran. Mereka harus menguasai materi ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Metode yg variatif. Pendek kata, seorang guru juga menjadi pembelajar sekaligus.
Mereka mempelajari metode agar penyampaian pelajaran dengan efektif dan tidak membosankan. Mereka selalu berusaha mengenal satu per satu anak didiknya, beserta karakternya yang berbeda-beda. Di titik seperti itu, guru hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai pendamping sekaligus penyemangat hidup. Dan itu bukan sesuatu yang mudah. Membutuhkan tenaga, fikiran bahkan perasaan yang prima.
Kerja-kerja mulia itu kerap berlangsung dalam sunyi. Tidak ada sorot kamera. Tak selalu ada tepuk tangan. Berjuang untuk pengetahuan muridnya dalam diam. Tak ada publikasi besar ketika seorang guru berhasil mencegah muridnya berhenti sekolah.
Karena itu, apresiasi terhadap guru seyogyanya bukan hanya soal seremoni di Hari Guru yang diadakan setiap tahun. Bukan juga sekadar memberikan slogan atau tagar di media sosial.
Apresiasi sejati memerlukan tindakan nyata. Melihat perkembangan berita beberapa waktu terakhir, kita melihat kondisi miris yang dialami oleh sebagian guru.
Guru diharapkan mencetak generasi unggul dan berkarakter, tapi hak dan kesejahteraannya sering terabaikan. Banyak guru honorer pulang mengajar sambil berpikir bagaimana menutup kebutuhan hidup hari itu.
Semakin modern simtem pendidikan, beban tugas guru makin bertambah. Tugas administrasi yang menggunung. Dampaknya fokus mengajar berkurang. Guru lebih sering dikejar laporan dan sistem digital yang rumit daripada mengajar dan membimbing muridnya. Energi habis untuk birokrasi, bukan untuk pendidikan itu sendiri.
Perubahan Kurikulum yang Terus Melaju
Kurikulum berubah berkali-kali, tetapi pelatihan dan dukungan tidak selalu mengikuti. Guru harus berlari dalam ketidakpastian arah.
Lain lagi bicara tentang fasilitas yang tidak merata. Ada guru yang mengajar di kota dengan fasilitas lengkap, tetapi ada pula guru di daerah terpencil yang mengajar tanpa listrik, tanpa buku yang cukup, bahkan tanpa gedung sekolah yang layak.
Parahnya lagi, dampak dari materialisme, penghormatan sosial terhadap guru semakin menipis. Dulu guru sangat dihormati. Kini sebagian masyarakat memandang guru hanya sebagai pekerja yang harus memenuhi ekspektasi tanpa cela. Kritik datang bertubi-tubi, tapi dukungan kadang langka.
Melihat kondisi guru hari ini, ada ironi yang membuat kita menundukkan kepala. Di tangan mereka, masa depan bangsa sedang disemai. Namun dalam keseharian mereka, masih banyak yang harus bergulat dengan realitas yang belum berpihak.
Guru yang kita titipkan harapan untuk mencerdaskan generasi, terkadang harus menghadapi kenyataan bahwa kehidupan mereka sendiri masih jauh dari pantas disebut sejahtera.
Mereka menguatkan murid-murid yang rapuh dalam belajar, padahal sering mereka sendiri rapuh di perjalanan hidupnya. Guru tetap berdiri tegak di depan kelas, meski kenyataannya bangku-bangku masa depan yang mereka isi itu lebih terjamin daripada kursi yang mereka duduki hari ini.
Guru seringkali membawa cerita perjuangannya dalam diam. Tak jarang mereka tertawa bersama murid agar kelas terasa hidup, sementara di rumah masih ada tagihan yang menunggu untuk diselesaikan.
Mereka memupuk mimpi anak-anak agar terus tumbuh, sementara mimpi mereka sendiri mungkin harus ditunda berkali-kali demi bertahan sebagai seorang pendidik.
Namun coba kita lihat, meski banyak hal yang membuat profesi ini terasa berat, guru tetap memilih untuk hadir. Tetap mengajar. Tetap percaya dan yakin bahwa apa yang mereka lakukan akan berarti, meski dunia tak selalu menghargainya.
Maka jika hari ini kita masih menemukan bangsa ini berdiri, generasi muda masih berani bermimpi, dan pengetahuan terus diwariskan dari satu waktu ke waktu lain, itu karena ada guru yang menjaga nyala belajar agar tak padam.
Kita mungkin tidak mampu membalas semua kebaikan mereka, tetapi kita bisa memastikan satu hal: rasa hormat pada guru tidak boleh sekadar menjadi slogan.
Guru tidak boleh hanya menjadi cerita indah dalam pidato seremonial. Mereka butuh kehadiran kita. Dukungan nyata dari pemerintah, masyarakat, dan orang tua, agar tetap kuat menjaga pintu masa depan.
Untuk itu, mari kita melihat guru bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai pilar utama kemajuan bangsa. Sebab bangsa yang menghormati gurunya adalah bangsa yang sedang merawat masa depannya sendiri.
Selamat Hari Guru Nasional 2025.
Tabik.










