PAMUNGKASNEWS.ID | BALIKPAPAN, 24 April 2026 – Julukan “Kota Minyak” kini terasa seperti ironi pahit bagi para sopir truk di Balikpapan. Di tengah megahnya industri kilang dan geliat proyek energi nasional, para penggerak distribusi logistik justru terjebak dalam krisis bahan bakar yang memukul langsung dapur ekonomi mereka.
Selama dua hari satu malam, sopir truk harus mengantre demi mendapatkan solar subsidi. Pemandangan ini bukan insiden sesaat, melainkan realitas harian yang terjadi di SPBU KM 15 Karang Joang, Balikpapan Utara.
Antrean kendaraan berat mengular bak “naga raksasa”, mencapai sekitar 2 kilometer dari arah Samarinda dan 1 kilometer dari arah pusat kota. Kondisi ini mencerminkan buruknya distribusi energi di wilayah yang seharusnya menjadi pusat pengolahan minyak nasional.
Ruspandi, anggota Komunitas Sopir Truk Balikpapan (KSTB), menyebut situasi ini telah melampaui batas kewajaran. Menurutnya, krisis solar bukan hanya persoalan teknis, tetapi ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup para sopir.
“Pendapatan kami turun lebih dari 50 persen. Dalam seminggu hanya bisa kerja dua sampai tiga hari, sisanya habis untuk antre. Tidur di pinggir jalan, jauh dari keluarga. Ini seperti hidup di daerah tertinggal, bukan di kota minyak,” tegasnya.
Dengan jatah pengisian hanya 120 liter per kendaraan, solar yang didapat hanya cukup untuk dua kali perjalanan jarak menengah seperti ke Samboja atau Loa Janan. Setelah itu, para sopir harus kembali masuk antrean panjang yang menguras waktu, tenaga, dan biaya.
Kondisi yang terus berlarut memaksa para sopir membuat aturan internal. Mereka sepakat menindak tegas praktik kecurangan, termasuk sopir yang mencoba mengisi lebih dari satu kali. Namun, langkah ini hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar persoalan.
KSTB secara tegas mendesak Pemerintah Kota Balikpapan dan pihak terkait untuk segera mengambil langkah konkret. Salah satu tuntutan utama adalah penambahan titik distribusi solar subsidi, khususnya di wilayah pinggiran seperti Karang Joang dan Balikpapan Timur.
Para sopir menilai distribusi BBM saat ini tidak merata dan cenderung menumpuk di titik tertentu, sehingga memicu antrean panjang yang tidak manusiawi.
Ironi semakin terasa karena di saat yang sama, proyek pengembangan kilang minyak nasional terus berjalan tanpa hambatan. Realitas di lapangan justru berbanding terbalik dengan narasi kemajuan yang digaungkan.
“Proyek besar jalan terus, tapi kami di lapangan menderita. Ini tidak masuk akal,” ujar Ruspandi.
Para sopir berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan laporan administratif, tetapi turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi nyata. Mereka menuntut kebijakan yang berpihak pada pekerja sektor riil yang selama ini menjadi tulang punggung distribusi logistik daerah.
“Kami ingin bekerja normal, bukan menghabiskan waktu di jalan hanya untuk antre solar. Kami juga ingin pulang, berkumpul dengan keluarga,” pungkasnya.
Reporter: Ags













