Peringati Hari Kebebasan Pers Sedunia, AJI Balikpapan Soroti Bahaya Swasensor dan Runtuhnya Independensi Redaksi

- Jurnalis

Rabu, 13 Mei 2026 - 10:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PAMUMGKASNEWS.ID | BALIKPAPAN – Momentum Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026 menjadi pengingat penting bahwa kebebasan pers di Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Balikpapan menegaskan bahwa praktik swasensor atau sensor mandiri kini menjadi ancaman nyata bagi independensi media dan kualitas demokrasi.

Fenomena tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Menggugat Sensor Mandiri dan Runtuhnya Pagar Api di Ruang Redaksi” yang digelar AJI Balikpapan di Puan Kopi Martadinata, Selasa (12/5/2026). Kegiatan ini dihadiri jurnalis, mahasiswa, praktisi hukum, hingga organisasi media dan bantuan hukum di Balikpapan.

Ketua AJI Balikpapan, Erik Alfian, mengungkapkan bahwa meningkatnya kekerasan terhadap jurnalis telah memicu praktik swasensor di berbagai ruang redaksi.

Berdasarkan data terbaru, sebanyak 80 persen jurnalis mengaku secara sadar menyensor karya jurnalistik mereka demi alasan keamanan pribadi, tekanan politik, hingga kepentingan bisnis perusahaan media.

“Angka tersebut menunjukkan bahwa kekerasan terhadap jurnalis masih menjadi ancaman serius bagi profesi ini,” ujar Erik di hadapan peserta diskusi.

Ia menjelaskan, sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 89 jurnalis menjadi korban kekerasan. Angka itu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 73 kasus.

Baca Juga :  Family Gathering Pamungkas Group di Pantai Manggar, Perkuat Silaturahmi dan Semangat Kebersamaan

Menurut Erik, kondisi tersebut tidak hanya membahayakan profesi jurnalis, tetapi juga mengancam hak publik untuk memperoleh informasi yang jujur, kritis, dan independen.

Dalam diskusi tersebut, AJI Balikpapan juga memaparkan hasil riset Yayasan Tifa, Populix, dan Konsorsium Jurnalisme Aman yang menunjukkan sebanyak 522 dari 655 responden jurnalis memilih melakukan sensor mandiri.

Adapun isu yang paling banyak mengalami swasensor meliputi program Makan Bergizi Gratis (MBG), Proyek Strategis Nasional (PSN), kriminalitas, hingga kebijakan pemerintah.

“Jurnalis terpaksa melakukan swasensor karena takut terjerat UU ITE, menjaga keamanan pribadi, hingga menghindari kontroversi. Praktik ini buruk bagi demokrasi karena publik kehilangan akses terhadap informasi yang jujur dan utuh,” tegas Erik.

AJI Balikpapan turut menyoroti kaburnya batas antara kepentingan bisnis dan independensi redaksi. Menurut Erik, saat ini banyak divisi iklan maupun kepentingan perusahaan mulai masuk ke ranah editorial dan memengaruhi isi pemberitaan.
Fenomena tersebut dinilai sebagai bentuk runtuhnya firewall atau pagar api yang selama ini menjadi prinsip utama pemisahan antara bisnis dan ruang redaksi.

“Situasi ini diperparah dengan meningkatnya tekanan ekonomi terhadap perusahaan media, terutama media rintisan yang bergantung pada sumber pendanaan tertentu” ujarnya.

Baca Juga :  Kaltim-Kaltara Rawan Jadi Destinasi 219 Ribu Pengungsi Luar Negeri, Ditjen Imigrasi Bentuk Forkopdensi

Direktur LBH Sentra Juang, Mangara Tua Silaban, menilai liberalisasi media telah memicu lahirnya banyak perusahaan pers yang belum sepenuhnya mampu menjaga kualitas dan independensi jurnalistik.

Menurutnya, intervensi terhadap karya jurnalistik kini terjadi secara lebih terbuka dan sistematis.

“Intervensi langsung bisa berupa pembatalan tayang berita, pengubahan judul untuk kepentingan tertentu, hingga intimidasi psikologis terhadap jurnalis seperti ancaman mutasi atau pengurangan honor,” ungkap Mangara.

Ia menegaskan bahwa media harus memiliki nilai, keberanian, dan posisi tawar yang kuat agar tetap independen di tengah tekanan kekuasaan dan pasar.

“Redaksi harus memiliki posisi tawar dan nilai yang kuat agar tetap bisa menjaga independensinya di tengah tekanan rezim dan pasar,” katanya.

Diskusi publik memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia ini berlangsung interaktif dengan diikuti sekitar 25 peserta dari berbagai kalangan.
Peserta berasal dari unsur jurnalis, Biro Bantuan Hukum Balikpapan, PBH Peradi Balikpapan, PWI Balikpapan, AMSI Balikpapan, SMSI Balikpapan, JMSI Balikpapan, UKM KOMIC Politeknik, hingga komunitas masyarakat sipil di Balikpapan.

Sumber : AJI Kota Balikpapan

Berita Terkait

Family Gathering Pamungkas Group di Pantai Manggar, Perkuat Silaturahmi dan Semangat Kebersamaan
Kaltim-Kaltara Rawan Jadi Destinasi 219 Ribu Pengungsi Luar Negeri, Ditjen Imigrasi Bentuk Forkopdensi
Polda Kaltim dan PJI Perkuat Sinergi, Kapolda: Pers dan Polri Harus Saling Menguatkan
HUT RI ke-81, RT 68 Balikpapan Utara Perkuat Kebersamaan Warga Lewat Beragam Kegiatan Lomba
Pelantikan DPD dan DPC APSI se-Kaltim, Momentum Baru Perkuat Profesionalisme Satpam
Semarak HUT RI ke-81, PT Benua Raya Grup Gelar Beragam Lomba, Perkuat Semangat Kebangsaan Karyawan
Kemerdekaan ke-81 RI, NasDem Balikpapan Serukan Aksi Nyata untuk Transformasi Kota
Semarak HUT RI ke-81, DPD Ikapakarti Balikpapan Satukan Ribuan Warga Lewat Jalan Santai, Bazar UMKM, dan Gebyar Budaya
Berita ini 34 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 02:47 WIB

Family Gathering Pamungkas Group di Pantai Manggar, Perkuat Silaturahmi dan Semangat Kebersamaan

Kamis, 17 September 2026 - 09:34 WIB

Kaltim-Kaltara Rawan Jadi Destinasi 219 Ribu Pengungsi Luar Negeri, Ditjen Imigrasi Bentuk Forkopdensi

Kamis, 3 September 2026 - 23:09 WIB

Polda Kaltim dan PJI Perkuat Sinergi, Kapolda: Pers dan Polri Harus Saling Menguatkan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 23:25 WIB

HUT RI ke-81, RT 68 Balikpapan Utara Perkuat Kebersamaan Warga Lewat Beragam Kegiatan Lomba

Kamis, 20 Agustus 2026 - 02:59 WIB

Pelantikan DPD dan DPC APSI se-Kaltim, Momentum Baru Perkuat Profesionalisme Satpam

Berita Terbaru