DPRD Balikpapan

Soroti Antrean BBM di SPBU Dan Sulitnya Mendapatkan Gas Elpiji 3Kg, Ardiansyah : Obor Pertamina Masih Menyala, Tangki Penampungan Terus Terbangun, Kemana Larinya Minyak & Gas Itu !!

PAMUNGKASNEWS.ID, BALIKPAPAN – Terkait banyaknya aduan persoalan susahnya mendapatkan Gas Elpiji 3 Kilo Gram (Kg) dan antrean panjang untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) terjadi hampir di semua SPBU di Kota Balikpapan. Membuat Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Balikpapan Ardiansyah bereaksi.

Tidak hanya antrean jenis solar subsidi, saat ini antrean jenis Pertalit pun terjadi di kota Balikpapan yang cukup dikenal sebagai kota minyak. Bahkan, masyarakat rela antre hingga ber jam-jam untuk mendapatkan BBM bersubsidi tersebut.

Bukan hanya BBM, susahnya mendapatkan Gas Elpiji 3 Kilo menjadi atensi yang harus diselesaikan. Pasalnya Gas Elpiji 3 Kg merupakan kebutuhan pokok warga masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari -hari.

Ardiansyah menyebut Kota kita di kenal dengan kota minyak. Bahkan Pertamina pengelola BBM dan gas juga di sini, namun realita yang terjadi malah sebaliknya, semua mengalami kelangkaan dan penuh perjuangan untuk mendapatkannya.

Ardiansyah mengatakan setiap hari obor besar di kawasan Pertamina terus menyala, tangki penampungan BBM Pertamina begitu besar terus terbangun, Itu artinya, (menurut politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP)) ini, stok BBM dan gas tersedia.

“Tiap hari kita melihat obor Pertamina menyala, Tangki penampungan yang sangat besar terus terbangun, itu artinya BBM tersedia. Terus kemana larinya minyak itu, kenapa masyarakat yang terus di persulit. Kalau memang SPBU-Nya kurang, ya dibangun lagi,” ucapnya saat disambangi media ini seusai menerima keluhan warga pada pelaksanaan reses masa Sidang III Tahun 2023 di lingkungan RT 22 Kelurahan Gunung Sari Ilir, Balikpapan Tengah, Pada, ( 26 /10/2023).

Ardiansyah menilai, kejadian tersebut sangat miris. Karena tidak hanya masalah antrean panjang, tapi juga jadi penyebab kemacetan arus lalu lintas. Terutama pada pagi dan sore hari.

“Itu sebenarnya masalah serius di Balikpapan, kita tiap hari melihat obornya menyala, tapi harga Gas Elpiji mahal dan sulit didapatkan, tangking penampungan BBM besar-besar terlihat namun minyak susah kita dapatkan. Jadi lucu. Karena tidak cepat di atasi,” bebernya.

Ia berharap, Pertamina juga mendengarkan keluh kesah masyarakat. Dewan, kata Ardiansyah, hanya sebatas berupaya setelah menerima segala keluh kesah mereka, tapi kebijakan segala persoalan itu tetap oleh Pertamina.

“Pertamina seharusnya cepat mengambil tindakan, jangan hanya melihat kesulitan mereka seperti saat ini,” pintanya.

“Sekarang saja, harga eceran Pertalite sudah naik dari harga sebelumnya Rp12.000 menjadi Rp 13.000. Hal itu di sebabkan karena mereka (pengecer) juga kesulitan mendapatkan BBM di SPBU,” sambungnya.

Satu hal lagi, menurut Ardiansyah, para pengetap Pertalite itu juga seharusnya mulai ditertibkan. Karena mereka (pengetap) juga menjadi penyebab antrean panjang sekaligus yang menghabiskan BBM di SPBU.

Ditambahkan, antrean BBM bersubsidi tersebut hanya terjadi di Balikpapan yang merupakan tempat pengolah minyak. Sedangkan di daerah lain seperti halnya di Sulawesi, Sumatera, serta di daerah Jawa yang bukan termasuk daerah pengolah minyak tidak pernah terjadi antrean.

“Hal ini seharusnya menjadi PR bagi Pertamina, bagaimana supaya problem yang sering terjadi itu tidak terus terulang, cari solusinya dong, jangan dibiarkan terus menerus. Kalau memang kurang SPBU-Nya, ya di tambah,” tandasnya.

Reporter :Ags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

58 − = 52

Back to top button
×